Harga Ayam dan Telur belum Stabil

Masyarakat harus mewaspadai maraknya ayam bangkai sebagai dampak tingginya harga ayam potong.
HARGA daging ayam dan telur di pasar tradisional terus merangkak naik menjelang Ramadan. Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, harga ayam potong menembus Rp35 ribu per kg. Banyak pedagang mengeluhkan tingginya harga ayam.

Warsita, 51, pedagang ayam di Pasar Cigasong, Kabupaten Majalengka, menjelaskan kenaikan harga ayam sudah terjadi sejak sepekan lalu. “Kenaikannya bertahap mulai Rp28 ribu menjadi Rp30 ribu. Saat ini ayam naik menjadi Rp35 ribu per kg. Sejak harga ayam naik, omzet menurun drastis.

Biasanya saya jual 50 kg sehari, sekarang cuma separuhnya,“ kata Warsita, kemarin.

Keluhan serupa juga diungkapkan Qonaah, 42, pedagang ayam potong di Pasar Mambo. Biasanya ia menjual ayam potong hingga setengah kuintal. Namun, dengan tingginya harga ayam, ia hanya menjual sekitar 20 hingga 30 kg per hari.
Kabid Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Dinas Perindustrian Perdagangan dan KUKM Kabupaten Majalengka, Duddy Darajat, saat menanggapi kenaikan harga ayam potong mengatakan pihaknya belum bisa berbuat banyak.

Alasannya SK bupati terkait dengan pengawasan empat pasar pemda, yakni Pasar Kadipaten, Sumberjaya, Ciga song, dan Talaga, belum turun.

“Kita tidak bisa melakukan pemantauan harga ke sejumlah pasar karena harus ada SK bupati,“ ujar Duddy. Ayam bangkai Tingginya harga ayam dikhawatirkan memunculkan ayam bangkai, atau kerap disebut mati kemarin (tiren), dan berformalin, yang biasanya dijual pedagang dadakan untuk mengeruk keuntungan.

Di Subang, pemkab setempat mengeluarkan imbauan agar masyarakat mewaspadai beredarnya ayam bangkai.
Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Subang Agus Sugama menyebutkan saat menjelang bulan puasa, bermunculan pedagang dadakan menjajakan kebutuhan pokok dengan harga murah.

“Pembeli harus curiga kepada pedagang yang menjual dagangannya, terutama ayam, dengan harga murah. Mungkin itu ayam yang dijual tidak sehat,“ terangnya.

Untuk meminimalkan peredaran ayam bangkai dan berformain, Dinas Peternakan Kabupaten Subang akan melakukan beberapa tindakan, di antaranya pemeriksaan seminggu sekali menjelang Ramadan. “Kita juga akan periksa semua pasar hewan dan rumah potong untuk meminimalkan penyebaran daging berbahaya,“ tegas Agus.

Diakuinya, konsumen akan sulit membedakan ayam bangkai dengan ayam segar karena tidak ada perbedaan yang mencolok. Petugas hanya tahu ayam bangkai setelah diperiksa di laboratorium.

Sebaliknya di Surabaya, Jawa Timur, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Bulog setempat menggelar operasi pasar khusus telur dan daging. Operasi pasar itu juga didukung perusahaan peternakan unggas dan penyuplai. Operasi pasar yang dilaksanakan kemarin tersebut mampu menurunkan harga kedua komoditas di sejumlah pasar di Surabaya.
Harga telur yang semula Rp19 ribu per kilogram kini turun menjadi Rp18 ribu per kg. Harga daging ayam yang sebelumnya Rp28 ribu per kg kini turun menjadi Rp27 ribu per kg.

“Pengaruhnya luar biasa sejak operasi pasar berlangsung. Dua komoditas tersebut bisa turun,“ kata Kepala Disperindag Jawa Timur, Budi Setiawan.

Untuk kebutuhan lainnya seperti beras, minyak goreng, daging, dan tepung, belum ada kenaikan harga signifikan.
“Sebenarnya persediaan telur dan daging ayam masih cukup tersedia hingga Agustus. Namun, harganya sudah keburu naik,“ imbuhnya.
Pihaknya akan terus melakukan operasi pasar agar harga daging dan telur ayam ras bisa terkendali dan stabil selama bulan puasa hingga Lebaran nanti. (RZ/FL/N-3) - Media Indonesia, 12/06/2014, halaman 11

0 komentar:

Posting Komentar