Menjelajahi Makanan Khas

PENGALAMAN berkeliling mencicipi kuliner Nusantara dijadikannya sebagai sumber referensi. Ia bersama dengan Kelanarasa menulis buku Makansutra Indonesia yang berisi ragam cerita kuliner dari Jakarta, Bandung, dan Bali, yang diterbitkan tahun lalu di Singapura.

Tak hanya itu, saat ini Arie juga menjadi kordinator penyelenggara untuk penyusunan buku berjudul Ekspedisi Warisan Kuliner yang disponsori Kecap Bango. Buku itu mendokumentasikan seluruh kuliner khas yang ada di 34 provinsi dengan minimal 105 kota di Indonesia.

Ekspedisi itu sudah dilakukan sejak April 2014, yang terdiri dari dokumentasi cara pembuatan hingga cerita ataupun filosofi dari makanan tersebut. Namun, cerita Arie, berdasarkan perjalanan yang sudah dilakukan, pendokumentasian bisa melebihi kota yang direncanakan karena dalam perjalanan Arie dan tujuh tim lainnya kerap mendapatkan tambahan informasi dari penduduk setempat dan temanteman di media sosial.

“Sekarang baru jalan 10 provinsi dengan 42 kota. Ada dua tim yang jalan sekarang ke Kalimantan Barat dan Jawa Barat. Sebulan setelah Lebaran, kita harapkan selesai,“ jelasnya.

Buku Ekspedisi Warisan Kuliner dinilai penting karena banyak generasi muda yang belum memiliki referensi makanan Indonesia secara menyeluruh. Akademisi, menurutnya, lebih banyak memiliki referensi menu Barat. Ia ingin sekali Indonesia memiliki dokumentasi yang baik sehingga bisa menjadi inspirasi, termasuk bisa menjadi peluang bagi pebisnis.

“Karena kita menduga Indonesia adalah negara dengan ragam kuliner terbesar di Dunia. Kita biodiversity kedua setelah Brasil.Kalau makanan dan minuman, saya berani menebak, Indonesia nomor satu. Keragaman inilah yang ingin kita tangkap dan kita share,“ tegasnya.

Keragaman kuliner ini, lanjut Arie, bisa menjadi kekuatan bagi Indonesia untuk lebih go international. Thailand, sebut Arie, memiliki banyak restoran yang tersebar di beragam negara. Memfokuskan makanan seperti halnya yang dilakukan Thailand sebenarnya sudah dilakukan pemerintah Indonesia melalui 30 ikon kuliner Nusantara.

“Seharusnya yang ragam itu yang diperkenalkan. Misal di New York, ada rumah makan Minang dari Indonesia. Atau di Berlin, rumah makan tegal. Keragaman ini jadi senjata, tinggal bagaimana mengemaskan dan mengedukasi informasinya,“ paparnya.

Pengoleksi 200 macam teh dan ribuan foto kuliner itu mengakui terjun di dunia kuliner memberikan kepuasan hidup tersendiri. Ia bersyukur hobinya kini bisa menjadi pekerjaan profesional yang sangat dinikmatinya.

Meski sering dianggap ahli kuliner, ia merasa masih memiliki banyak kekurangan dan harus terus mengeksplorasi kuliner Indonesia. Banyak sekali ilmu, wawasan kuliner yang begitu unik selama perjalanan kulinernya yang tidak akan ia dapat di ruang kuliah atau industri modern.

Hingga saat ini, ia pun sering menjadi pembicara di sejumlah acara kuliner. Salah satunya menjadi pembicara di World Street Food Congress di Singapura pada 2013.

“Ini merupakan titik kecil dari bentuk nasionalisme agar masyarakat bisa kembali mencintai kuliner Indonesia. Saya ingin sekali kuliner Indonesia bisa berbicara, dan pemerintah bisa lebih banyak mendukung perizinan, bahan-bahan, diskon bahan baku, seperti yang dilakukan pemerintah Thailand. Dengan begitu, rumah makan Indonesia bisa mendunia dan kuliner Indonesia bisa lebih populer, dan akademisi lebih banyak mengeksplorasi kuliner Nusantara.“ (Sky/M-5) Media Indonesia, 3/09/2014, hal 24

0 komentar:

Posting Komentar