Harga BBM Naik, Pangan Diawasi

Pemerintah harus mengawasi distribusi dan harga pangan agar tidak terlalu tinggi pascapenaikan harga BBM. RENCANA Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menaikkan harga BBM bersubsidi Rp3.000 per liter pada 1 November mendatang diprediksi mengerek inflasi kurang lebih 3%. Dampak ikutan penaikan harga tersebut harus diantisipasi pemerintah.

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah, dengan penaikan harga BBM bersubsidi pada November, inflasi keseluruhan pada 2014 ditaksir sekitar 8%-9%. Adapun target inflasi pada APBN-P 2014 ialah 5,3%. “Inflasi mungkin akan tetap tinggi sampai awal 2015, tapi dia lama-lama akan melandai dan turun di akhir tahun,“ ujar Halim dalam forum group discussion di Pangkal Pinang, Bangka, kemarin.

Halim menegaskan penaikan harga BBM bersubsidi ialah langkah tidak terelakkan untuk memperbaiki keseimbangan APBN. “Tanpa itu, APBN tidak tertolong,“ ucapnya.

Halim merujuk kepada besaran subsidi BBM dan elpiji yang kian membengkak.Pada 2015, bujetnya mencapai Rp276 triliun, naik dari Rp246,5 triliun pada 2014. Besarnya subsidi BBM membuat pemerintah kehilangan potensi un tuk memanfaatkan APBN bagi aktivitas ekonomi yang lebih produktif, seperti pengadaan infrastruktur.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development for Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyebut kenaikan angka inflasi akibat penaikan harga BBM bersubsidi sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, sebab inflasi Indonesia pernah mencapai 8% pada tahun lalu.

“Kalau harga BBM dinaikkan, akan ada inflasi 6%-7% tidak terlalu masalah, bahkan kita pernah capai 8% dan buktinya Indonesia kuat,“ jelasnya via telepon, kemarin. Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengklaim tidak ada kenaikan harga makanan yang signifikan jika BBM bersubsidi naik Rp3.000 per liter November nanti. “Enggak sampai 1%,“ ujar Franky melalui sambungan telepon, kemarin. Franky menjelaskan anggota Gapmmi yang tergolong kelompok industri menengah memakai BBM industri yang mengacu harga internasional dalam proses produksinya.

Ia justru mengkhawatirkan kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) yang tidak mempunyai akses mendapatkan BBM industri dari pertamina.Kelompok itu harus menggunakan BBM seperti masyarakat pada umumnya. Alhasil, biaya produksi ikut meningkat.Harga pangan Pengamat ekonomi dari Universitas Padjadjaran Ina Primiana mengingatkan pemerintah harus mengawasi distribusi dan harga pangan agar tidak terlalu tinggi pascapenaikan harga BBM itu. “Pemerintah juga harus menjaga harga bahan pangan. Pasti semuanya akan naik, tetapi pemerintah harus punya batasan agar kenaikan harga tidak melebihi standar yang sudah ditetapkan,“ jelasnya.

Hal itu diamini seorang karyawan swasta, Laila, 24, yang mengkhawatirkan dampak ikutan penaikan harga BBM. “Sebenarnya kalau dinaikkan tidak akan terlalu menjadi masalah dan dampaknya tidak akan terlalu besar kalau para pedagang dan penyedia jasa tidak panik dan berlebihan dalam menanggapinya. Kalau mereka berlebihan, pasti tarif angkot dan makanan akan naik,“ kata dia. (Riz/Wib/E-3) Media Indonesia, 26/10/2014, Halaman : 4

0 komentar:

Posting Komentar