REKOMENDASI Hikayat Gurami Terbang di Dapur Sunda

JIKA gurami terbang, ikan gurami goreng yang ditata sedemikian rupa hingga bisa tegak berdiri dengan sirip dan daging tebal di sekitarnya, jadi sajian favorit Anda saat makan di rumah makan Sunda, Dapur Sunda ialah pemilik kisahnya. Restoran dengan 9 cabang-8 di Jakarta dan 1 di Denpasar, Bali--itu, kata Ansoroeddin, sang pemilik, pada 1986 berdiri dan kemudian merilis menu unggulannya, ikan gurami yang digoreng kering dan ditata ciamik.

“Pada 28 tahun lalu, pada saat kami berdiri, ikan gurami belum populer, bahkan harganya lebih murah daripada ikan mas. Kami cari cara mengolah dan menyajikannya dengan baik,“ kata Ansoroeddin.


Dengan merintis rumah makan dari warung pinggir jalan hingga kini memilih pasar premium makanan Sunda, Ansoroeddin selalu punya kiat buat tampil beda. Di Dapur Sunda di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, yang juga restoran pertamanya, kini rutin digelar pertunjukkan musik dan tarian tradisional di sebuah ruangan yang lapang, di bagian belakang restoran. Perkenalan tentang program baru itu dilakukan pada September lalu.

“Dulu, waktu kami mulai, belum ada yang pakai nama Dapur dan Sunda. Yang ada, orang menamakan restorannya dengan embel-embel kuring untuk menandakan penyajian masakan Sunda. Tapi sekarang, berapa banyak pelaku usaha makanan yang menggunakan kata dapur dan Sunda?” kata Ansoroeddin.

Konsisten menyajikan makanan Sunda, yang bercita rasa segar dan banyak menggunakan sayuran, Ansoroeddin ingin melengkapi pengalaman bersantap dengan menikmati Bumi Priangan sepenuhnya.

Inovasi-inovasi pada menu pun wajah restorannya, kata Ansoroeddin, membuat pelanggannya selalu beregenerasi. Kakek nenek, ayah dan ibu, hingga anak-anak, yang telah lekat dengan Dapur Sunda, menjadi pelanggan setianya.

Kini, 500 kilogram gurami tandas setiap hari di sembilan restorannya. Ada 400 karyawan yang dipekerjakan, dan standar rasa yang konsisten untuk semua cabang.

“Karyawan hanya tinggal masak karena semua bumbu sudah dikemas sehingga rasa di tiap restoran akan sama,” kata Ansoroeddin.

Keinginan buat menjaga rasa itu pula yang membuat pengusaha yang kini dibantu empat putrinya dalam menjalankan usaha itu masih menutup pintu pada sistem waralaba.

Jadi, mari makan gurami terbang dan menikmati gemulai tari Sunda di Dapur Sunda! (Zat/M-3) Media Indonesia, 12/10/2014, hal : 23

0 komentar:

Posting Komentar