Menyantap Makanan dari Selembar Daun Pisang

Hanya satu masakan yang menggunakan santan dan tidak dimiliki resto lain, yakni tumis turuk yang berbahan utama batang tebu. Kepulan asap tipis menguar setelah pramusaji menaruh satu centong nasi di atas selembar daun pisang. Belum sempat memilah lauk untuk disantap bersama, seorang laki-laki berpakaian ala Kabayan dengan selempang sarung di salah satu pundak menawarkan dua macam kuah.

Pilihannya, kuah rendang dan cumi. Tak mau melewatkan sedikit pun rasa resto yang bernama Alas Daun, dua macam kuah tersebut kami cicipi. Hmm, gurih berpadu hangat menambah selera makan.

Satu per satu menu paling laris dihidangkan dengan menggunakan wajan kecil persis seperti peralatan mainan anak kecil. orak-arik bunga pepaya, sambal mangga, jengkol crispy, ikan jambal balado, dan tutut pun terhidang. Menu andalan lain yang ikut disajikan ialah ayam si buluh. Ayam dimasak dengan ragam rempah, seperti jahe, bawang merah, cabai ijo keriting, irisan tomat hijau, daun kemangi, dan juga sereh, kemudian dibungkus daun pisang. Setelah itu dimasukkan ke dalam bambu berdiameter sekitar 7 cm.

Jika pesanan datang, Ayam si Buluh akan dipanaskan terlebih dahulu berikut dengan bambunya. Rasa asam manis menyentuh lidah ketika mencoba menu yang terinspirasi masakan Padang itu. Rasa berbeda juga ditemukan pada menu orak-arik bunga pepaya. Rasa pahit menjadi netral.

“Supaya tidak pahit, kami rebus terlebih dahulu bunga pepaya. Setelah diangkat dari rebusan kami cuci dan diamkan. Lantas kami siapkan bumbu un tuk ditumis, seperti bawang merah, bawang putih, cabe rawit, telur yang sudah diorak-arik, baru ke mudian bahan lain, seperti kacang panjang, irisan petai, dan bunga pepaya,“ terang salah satu koki, Ujang Eros sembari menemani mencicip ma kanan, Rabu(8/10).

Inovasi Lelaki yang akrab disapa Eros itu pun memperkenal kan inovasi jengkol crispy yang banyak disukai pe ngunjung. Irisan tipis jengkol sekilas mirip seperti ken tang dengan bumbu pedas.

Begitu digigit, terasa renyah.
Bau dan rasa jengkolnya pun tidak lagi terasa, mirip dengan kerupuk jengkol yang biasa di jual dalam kemasan kecil. Para pengunjung, kata Eros, banyak yang mengaku tidak menyu kai jengkol, tetapi setelah mencicipi kreasi Alas Daun, mereka kerap datang dan memesan jengkol crispy.

Eros mengakui di tempatnya bekerja hampir semua makanan menggunakan rempah-rempah, jarang menggunakan santan. Namun, ada satu masakan khas Alas Daun yang menggunakan santan dan tidak dimiliki restoran lain, yaitu tumis turuwuk, terbuat dari bagian atas batang tebu, dimasak dengan santan, udang , petai, dan aneka bumbu.

Untuk sambal, ada beberapa pilihan, mulai dari sambal mangga, sambal matang, hingga sambal seafood yang mirip sambal matah Bali. Hanya saja, Eros menambahkan udang kecil yang direbus dan digerus bersamaan dengan cabai, sehingga menyisakan aroma udang. Sementara untuk sambal halilintar, rasanya sangat unik, pedas tapi wangi. Kami lantas berusaha menebak-nebak warna hijau yang muncul di sambal.

“Ini ada campuran daun kemanginya, semua bahannya mentah. Sambal ini baru keluar di tahun 2012, waktu itu saya iseng sedang makan siang dan ingin pakai sambal, begitu saya suruh teman mencicipi, katanya enak. Kemudian dihitung tim cost control, dicoba dengan jajaran direksi, disetujui, baru kami tawarkan,“ tukas Eros. Kohkol, si paket ekonomis Selain menu prasmanan yang disediakan, ada paket ekonomis bernama Kohkol. Nasi dan lauk yang dihidangkan di atas bambu itu menghasilkan aroma khas. Pilihan menu utamanya ada pilihan ayam atau ikan barakuda. Untuk makanan pelengkap se perti tahu, sambal, dan sambal goreng kentang teri tersedia untuk paket ayam maupun ikan.

Paket yang dibanderol dengan harga Rp40 ribu untuk ikan, dan Rp37. 500 untuk ayam juga dilengkapi dengan menu es pandawa, yang berisi cincau, selasih, cendol, nangka, susu kental, dan es krim. Pilihan es krim pun bisa dipesan sesuai keinginan, ada vanilla, strawberry, dan cokelat.

“Paket ini cocok untuk rombongan, satu orang sudah dapat semua, biar tidak ribet comot sana sini he he he,“ tukas Asep Solihin, Supervisor Alas Daun Bandung.

Perihal harga rata-rata menu di restoran berkonsep open kitchen itu terbilang murah. Sambal misalnya, Rp2 ribu per sajian, sambal mangga Rp7 ribu, jengkol crispy dan orak-arik bunga pepaya Rp12. 500, ayam si buluh Rp25 ribu, tutut Rp11 ribu, dan nasi Rp5 ribu. Suasana Sunda Bagian depan restoran penuh dengan hijau dedaunan. Selain itu, pengunjung bisa mendengar musik tarling Sunda.

Di bagian dalam ada open kitchen yang dikelilingi meja-meja untuk santap. “Tamu bisa melihat apa yang kami kerjakan. Di sini ada beberapa yang harus diolah terlebih dahulu. Kalau hari biasa pengunjung sekitar 300 orang per hari, kalau akhir pekan bisa dua kali lipat,“ ungkap Asep.

Restoran yang didirikan sejak 2011 oleh empat orang itu juga menyediakan fasilitas free wifi. Tidak mengherankan banyak pengunjung yang mengunggah gambar atau share lokasi dengan menyertakan nama Alas Daun. Setiap bulan, kata Asep, restoran yang buka sejak pukul 10 pagi hingga 10 malam itu selalu berusaha mengeluarkan satu menu baru. Jika ada menu yang sangat populer akan dipertahankan hingga bulan berikutnya. (M-3) Media Indonesia, 23/11/2014, halaman 23

0 komentar:

Posting Komentar