Mengajak Lidah Berdecak

Bumbu dan resep yang digunakan di Soto Betawi Haji Mamat merupakan resep turun-menurun dari sang pemilik, yakni almarhum Haji Mamat. JAM baru menunjuk pukul 09.00 WIB ketika kami tiba di rumah makan Soto Betawi Haji Mamat di ruko Boulevard Gading Serpong Blok AA 4 No 23, Tangerang. Namun, meja-meja di dalamnya nyaris penuh.

Soto Haji Mamat memang selalu ramai sehingga tidak bertahan lama. Biasanya setelah jam makan siang sudah habis, terutama di akhir pekan. Ada tiga menu andalan yang disajikan rumah makan ini, yakni soto santan, soto bening dan oseng daging. Untuk isi dari soto ada dua pilihan, yaitu daging saja atau daging campur jeroan dan ayam.

Potongan-potongan daging sapi yang dipadukan dengan dua macam kuah (santan dan bening) memang sangat menggoda selera. Rasa kuahnya gurih, dan pas di lidah. Daging sapi juga empuk.

Yang tak kalah menggiurkan adalah menu oseng. Juga tersedia pilihan daging oseng, daging campur jeroan, atau ayam oseng dengan irisan bawang merah, tomat dan cabai rawit hijau yang lumayan banyak. Rasanya sungguh gurih nan pedas. Dijamin lidah bakal berdecak tiada henti.

Daging ataupun ayam sangat khas rasanya karena bumbu telah meresap ke dalam daging saat dioseng. Osengan disajikan dengan semangkuk kuah sup bening dengan taburan bawang goreng dan emping.

Untuk memakan oseng sesuai dengan selera masing-masing. Oseng dapat dicampur ke dalam kuah atau pun memakan oseng terlebih dahulu baru m e ny e r u p u t kuahnya.

Menurut Cucu Rohman, salah seorang pegawai rumah makan Soto H Mamat, menu oseng merupakan favorit pengunjung. Se lain rasanya yang sungguh membuat lidah berdecak, mereka bisa menikmati dan meracik potongan daging yang sudah dicampur bumbubumbu itu dengan selera rasa mereka sendiri.

“Di sini 75% pengunjung memesan menu oseng. Mungkin karena menu oseng itu kuahnya terpisah dan mereka bisa meracik dengan bumbu pilihan mereka sendiri,“ jelas Cucu. Adapun jika memesan soto betawi, yang disediakan oleh pelayan adalah semangkuk kuah santan yang berisi daging, daging campur, atau ayam sesuai pesanan. Tambahan tomat, kentang, daun bawang, seledri serta emping menjadi ciri khas dari soto betawi.

Menu lainnya adalah sup yang isinya tidak berbeda jauh dengan soto betawi. Hanya saja, kuah sup ini ben ing karena tanpa campuran san tan. Namun, aroma rem pah-rem pah sangat terasa di d a l a m mulut ke tika men coba sup ini. Resep warisan Cucu mengung kapkan bumbu dan resep yang turun menurun dari sang pemilik yakni almarhum Haji Mamat. Salah satunya adalah merendam daging sapi potong itu dengan kuah kaldu sapi sehingga bisa mendapatkan rasa daging yang gurih dan empuk.

“Iya, daging sapi potong di sini memang direndam dulu sehingga bisa rasanya bisa gurih dan empuk. Ada juga bumbu-bumbu racikan yang kami gunakan,“ sambungnya.

Cucu menambahkan berkat menumenu yang diwariskan oleh almarhum, kini usaha yang dilanjutkan oleh anak-anaknya itu terus melebarkan sayap. Kini, Soto Haji Mamat sudah memiliki beberapa cabang. Di antaranya di kawasan BSD (pusat), Rawa Buntu, Gading Serpong, Tangerang City, dan beberapa outlet di foodcourt mall.

“Di sini juga banyak artis yang sering berkunjung. Tora Sudiro langganan di sini. Juga ada penyanyi Marcell, Rano Karno, Bondan, dan Sophia Latjuba yang sering makan di sini,“ pungkasnya.

Tempat makan di sini dibuka sejak pukul 09.00 -17.00 WIB. Namun sekali lagi, disarankan untuk datang tidak lebih dari pukul 14.00 WIB, terlebih di akhir pekan karena biasanya menu-menu yang tersedia sudah habis semuanya.Tempat yang tersedia ada dua lantai dengan meja yang lumayan banyak.

Banyaknya pengunjung yang datang ke Soto Betawi Haji Mamat, 65 kilogram daging sapi habis setiap harinya.“Kalau akhir pekan memang lebih banyak, bisa 65 kilogram. Namun, kalau hari biasa, paling sekitar 45-55 kilogram saja,“ ujarnya.

Untuk menikmati soto dan oseng ini, cukup mengeluarkan uang sebesar Rp30ribu untuk masing-masing menu.Bila ingin tambah nasi putih, cukup dengan harga Rp4ribu. (M-5) Media Indonesia, 1 Maret 2015, Halaman 23